Selamat datang di Blog Aang Abdu Muamar Rauf, Semoga Isi dan Materi dari Blog saya dapat bermanfaat untuk semuanya. Setelah mengunjungi dan melihat atau copy materi atau isi, silahkan berikan komentar

7 June 2012

ANALISIS EFISIENSI MODAL KERJA TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN

Ini adalah bisnis yang menguntungkan, mau tahu ? Klik link DISINI


LAPORAN
METODE PENELITIAN SOSIAL


Disusun oleh :
Susan Susanti
Manajemen / C / VI


 Fak. Syariah dan Hukum
UIN Sunan Gunung Djati
Bandung
2012 




BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
Perusahaan pada dasarnya membutuhkan modal yang cukup dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Tanpa adanya modal aktivitas usaha tidak dapat dijalankan (Sudarsono dan Edilius, 2002:169). Modal tersebut berasal dari kekayaan yang dimiliki perusahaan tersebut. Selain digunakan dalam operasi perusahaaan sehari-hari, modal kerja menunjukkan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur terutama kreditur jangka pendek. Adanya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan dapat beroperasi seekonomis mungkin sehingga perusahaan tidak mengalami kesulitan sebagai akibat adanya krisis atau kekacauan keuangan.
Maulana (1992:202) mendefinisikan efisiensi sebagai perbandingan antara keluaran dan masukan, jumlah keluaran yang dihasilkan dari suatu input yang  digunakan. Efisiensi juga dapat disebut sebagai daya guna yang mana penekanannya disamping hasil yang ingin dicapai, juga memperhitungkan pengorbanan untuk mencapai hasil.
Beberapa penelitian empiris dilakukan oleh Herlina Pujiastuti (2009), Susiani (2005), Wijayanti (2007), dan Kusumardani (2005), menunjukkan bahwa jumlah modal kerja dan efektivitas penggunaan modal kerja secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Semakin tinggi jumlah modal kerja yang penggunaannya diatur untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran untuk kegiatan operasi perusahaan sehari-hari akan menguntungkan bagi perusahaan karena di samping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan. Pendeknya periode perputaran modal kerja, maka profitabilitas perusahaan akan semakin meningkat. Sebaliknya semakin lama periode perputaran modal kerja, maka profitabilitas perusahaan akan semakin menurun.
Penggunaan modal kerja harus dikelola seefektif mungkin agar profitabilitas perusahaan dapat ditingkatkan. Kebijakan perusahaan dalam mengelola jumlah modal secara tepat akan mengakibatkan keuntungan, sedangkan akibat dari penanaman modal kerja yang kurang tepat akan mengakibatkan kerugian. Agar dapat menilai posisi keuangan suatu perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban– kewajibannya, maka perlu digunakan alat analisis yang dinamakan rasio Likuiditas, artinya rasio yang memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Dari perhitungan rasio ini diharapkan dapat membantu para manajer untuk menilai efektivitas dan efisiensi modal kerja yang digunakan perusahaan dalam menjalankan usahanya. Analisis rasio terhadap modal kerja perusahaan pun sangat perlu dilakukan untuk mengetahui dan menginteprestasikan posisi keuangan jangka pendek perusahaan serta meneliti efisiensi dan penggunaan modal kerja dalam perusahaan.
PT. INTI merupakan salah satu badan usaha milik Negara yang bergerak dalam bidang industry telekomunikasi. Berkantor pusat di Bandung. PT. INTI telah bergerak di bidang telekomunikasi selama beberapa decade sebagai pemasok utama pembangunan jaringan telepon nasional yang diselenggarakan oleh PT. Telkom dan Indosat. Berbekal pengalaman dan kompetensi di bidang telekomunikasi selama lebih dari 30 tahun (di dirikan pada tahun 1974). PT. INTI telah menggariskan kebijakan-kebijakan organisasi yang mendukung perubahan orientasi bisnis dan budaya kerja perusahaan yang berkemampuan untuk bersaing di pasar.
Dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, PT. INTI di tuntut untuk mempunyai modal kerja yang cukup. Modal kerja pada PT. INTI digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan seperti membayar gaji karyawan, pembelian bahan mentah, dan lain-lain. Dana atau uang yang telah keluar untuk membiayai operasi sehari-hari berputar kembali masuk ke perusahaan melalui hasil penjualan produk dan jasa telekomunikasi. Dengan penjualan produk dan jasa telekomunikasi tersebut perusahaan diharapkan memperoleh keuntungan atau laba yang akan digunakan lagi sebagai modal kerja perusahaan untuk periode selanjutnya. Maka dari itu efisiensi modal kerja perlu dilakukan oleh perusahaan untuk memperlancar kegiatan yang bermanfaat.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengajukan penelitian mengenai “pengaruh efisiensi modal kerja terhadap tingkat profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia”.
1.2. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan efisiensi modal kerja  di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung ?
2.      Bagaimana perkembangan profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung ?
3.      Bagaimana pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung ?
1.3. Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui Perkembangan Efisiensi modal kerja  di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung;
2.      Mengetahui perkembangan profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung;
3.      Mengetahui pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Bandung.
1.4. Kegunaan Penelitian
Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama bagi :
1.      Penulis
Untuk mempelajari dan memperoleh pemahaman terhadap permasalahan mengenai efisiensi modal kerja serta bagaimana pengaruhnya terhadap profitabilitas perusahaan.
2.      Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan alat evaluasi dalam mengoptimalkan dana yang ditanamkan dalam modal kerja untuk mendapatkan profitabilitas laba yang optimum.
3.      Pihak lain
Dapat menjadi bahan referensi dan tambahan informasi atau masukan dalam pengembangan masalah dan solusi di bidang kajian yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini dan bidang lainnya pada umumnya, bagi peneliti selanjutnya maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan atas masalah yang sama.
1.5. Kerangka Pemikiran
1.      Landasan teori
a.       Efisiensi modal kerja
Manajemen atau pengelolaan modal kerja merupakan hal yang sangat penting agar kelangsungan usaha sebuah perusahaan dapat dipertahankan (Hanafi, 2005: 125). Kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan modal kerja akan menyebabkan buruknya kondisi keuangan perusahaan sehingga kegiatan perusahaan dapat terhambat atau terhenti sama sekali.
Kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan modal kerja akan menyebabkan buruknya kondisi keuangan perusahaan sehingga kegiatan perusahaan dapat terhambat atau terhenti sama sekali.
Adanya kelebihan modal kerja dalam sebuah perusahaan dapat disebabkan oleh :
1)      Pengeluaran obligasi/saham dalam jumlah yang lebih dari yang diperlukan.
2)      Penjualan aktiva tak lancar yang tak diganti.
3)      Terjadinya laba operasi yang tidak digunakan untuk pembayaran dividen, untuk pembelian aktiva tetap atau untuk tujuan lain yang serupa.
4)      Konversi atau perubahan aktiva tetap ke dalam modal kerja.
Konversi perubahan bentuk yang tak disertai dengan penggantian dari aktiva tetap ke dalam modal kerja dengan jalan proses depresiasi, deplesi dan amortisasi.
5)      Karena akumulasi atau penimbunan sementara dari berbagai dana yang disediakan untuk investasi-investasi dan sebagainya.
Sedangkan terjadinya kekurangan modal kerja menurut Wijaya (1995: 93-96) dapat disebabkan oleh :
1)      kerugian usaha.
2)      Adanya kerugian luar biasa (Extraordinary Losses). Kerugian luar biasa adalah kerugian yang tidak disebabkan karena operasi rutin perusahaan.
3)      Kebijakan dividen yang kurang baik.
4)      Penggunaan modal kerja untuk memperoleh aktiva tak lancar.
5)      Kenaikan tingkat harga umum
Indikasi pengelolaan modal kerja yang baik adalah adanya efisiensi modal kerja yang dilihat dari perputaran modal kerja (Husnan, 1997: 98) yang dimulai dari aset kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode perputarannya, makin cepat perputarannya sehingga perputaran modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisiens yang pada akhirnya rentabilitas semakin tinggi.
b.         Profitabilitas
Profitabilitas adalah suatu indikasi atas bagaimana margin laba suatu perusahaan berhubungan dengan penjualan, modal rata-rata, dan ekuitas saham biasa rata-rata (Greuning, 2005:29).
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri (Sartono, 1998: 130). Jumlah laba bersih kerap dibandingkan dengan ukuran kegiatan atau kondisi keuangan lainnya seperti penjualan, aktiva, ekuitas pemegang saham untuk menilai kinerja sebagai suatu persentase dari beberapa tingkat aktivitas atau investasi .
Terdapat beberapa cara untuk mengukur tingkat profitabiliras perusahaan:
1)    Gross Profit Margin (GPM). Pengukuran ini adalah ukuran presentase dari setiap hasil penjualan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan. Semakin tinggi gross profit margin maka semanik baik.
2)    Operating Profit Margin (OPM). Pengukuran ini adalah ukuran presentase dari setiap sisa hasil penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi selain bunga dan pajak.
3)    Net Profit Margin (NPM). Pengukuran ini adalah ukuran untuk mengukur presentasi keuntungan perusahaan setelah dikurangi semua biaya dari pengeluaran termasuk bunga dan pajak.
4)    Return on Asset (ROA). Pengukuran ini adalah ukuran keefektifan manajemen dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia.
5)    Return on Equity (ROE). Pengukurn ini adalah ukuran pngembalian yang diperoleh pemilik atas investasi di perusahaan.
2.      Paradigma penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat digambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut:

Profitabilitasss
 


Efisiensi modal kerja
 
                                                                                         
                                                                                                                       
1.6. Hipotesis
Jika paradigma di atas dikaitkan dengan masalah penelitian, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut bahwa “efisiensi modal kerja berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI)”

Dari hipotesis umum tadi diturunkan menjadi dua hipotesis khusus, yaitu:
1.      Semakin tinggi efisiensi modal kerja maka profitabilitas akan semakin tinggi.
2.      Semakin rendah efisiensi modal kerja maka profitabilitas akan semakin rendah.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1. Efisiensi Modal Kerja
2.1.1.      Pengertian Modal Kerja
menurut Riyanto (2001:57) terdapat tiga konsep pengertian modal kerja, yaitu :
a.       konsep kuantitatif.
Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar, dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian, modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar, atau sering juga disebut sebagai modal kerja kotor (gross working capital),
b.      konsep kualitatif.
Modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, atau disebut sebagai modal kerja bersih (net working capital),
c.       konsep fungsional.
Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income). Setiap dana yang digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Pada dasarnya dana-dana yang dimiliki oleh perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk manghasilkan laba sesuai dengan usaha pokok perusahaan, tetapi tidak semua dana digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (current income) ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba di masa yang akan datang.
2.1.2.      Jenis Modal Kerja
Modal kerja dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:
a.       modal kerja permanen (permanent working capital) yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan dalam :
1)      modal kerja primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya,
2)      modal kerja normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
b.      modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :
1)      modal kerja musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim,
2)      modal kerja siklis, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konyungtur,
3)      modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya  (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).
2.1.3.      Pentingnya Modal Kerja
Modal kerja yang cukup akan menguntungkan perusahaan, disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan juga akan memberikan beberapa keuntungan (Munawir,2001:16) yaitu :
a.       Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
b.      Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
c.       Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk memelihara “Credit standing” perusahaan yaitu penilaian pihak ketiga, misalnya bank dan para kreditor akan kelayakan perusahaan untuk menghadapi situasi darurat seperti dalam hal terjadi : pemogokan, banjir dan kebakaran.
d.      Memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit kepada para pembeli. Kadang-kadang perusahaan harus memberikan kepada para pembelinya syarat kredit yang lebih lunak dalam usaha membantu para pembeli yang baik untuk membiayai perusahaannya.
2.1.4.      Penilaian Efisiensi Modal Kerja
Maulana (1992:202) mendefinisikan efisiensi sebagai perbandingan antara keluaran dan masukan, jumlah keluaran yang dihasilkan dari suatu input yang digunakan. Efisiensi juga dapat disebut sebagai daya guna yang mana penekanannya disamping hasil yang ingin dicapai, juga memperhitungkan pengorbanan untuk mencapai hasil. Rasio yang digunakan sebagai indikator efisiensi modal kerja adalah
(Husnan, 1997:550) yaitu :
Return On Working Capital = Operating Income : Current Assets
Rasio ini menggunakan dasar pemikiran pengukuran keuntungan operasi dari setiap modal kerja bruto yang dimiliki perusahaan. Semaki besar kemampuan modal kerja tersebut menghasilkan keuntungan operasi. Konsep modal kerja bruto dipergunakan dengan maksud agar pengukuran efisiensi tidak dipengaruhi oleh kebijakan pendanaan jangka pendek lainnya.
Manajemen atau pengelolaan modal kerja merupakan hal yang sangat penting agar kelangsungan usaha sebuah perusahaan dapat dipertahankan (Hanafi,2005:125).


2.1.5.      Pengukuran Efisiensi Modal Kerja
Bentuk dan jumlah komponen-komponen modal kerja bervariasi menurut siklus operasional. Untuk mendapatkan jumlah komponen-komponen yang digunakan dalam aktivitas operasional selama siklus operasional, efisiensi modal kerja di ukur menurut hari modal kerja Days Working Capital (DWC). Nilai DWC didasarkan pada jumlah rupiah dalam setiap penjualan, persediaan, dan utang. DWC mempresentasikan periode waktu antara pembelian hingga penjualan produk kepelanggan, pengumpulan piutang usaha dan penerimaan pembayaran.
Adapun pengukuran modal kerja adalah untuk mengelola masing-masing pos aktiva lancar dan hutang lancar sedemikian rupa, sehingga jumlah Net Working Capital (aktiva lancar dikurangi hutang lancar) yang diinginkan tetap dipertahankan.
Yang termasuk unsur-unsur efisiensi modal kerja, antara lain terdiri dari :
a.       Penjualan adalah penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagang atau dari penyerahan pelayanan dalam bursa sebagai barang pertimbangan.
b.      Persediaan adalah barang-barang yang disimpan untuk dijual kembali oleh perusahaan. Persediaan adalah salah satu elemen penting didalam usaha-usaha perusahaan untuk memperoleh tingkat penjualan yang diinginkan.
c.       Utang adalah utang yang akan dilunasi dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasi perusahaan.
Dengan demikian, setiap perusahaan harus selalu diawasi, merencanakan , serta menjaga tingkat modal kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan atau dengan kata lain perusahaan harus melakukan efisiensi modal kerja.


2.2. Profitabilitas
2.2.1.      Pengertian Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan didalam menghasilkan laba. Profitabilitas mencerminkan keuntungan dari investasi keuangan. Myers dan Majluf (1984) berpendapat bahwa manajer keuangan yang menggunakan packing order theory dengan laba ditahan sebagai pilihan pertama dalam pemenuhan kebutuhan dana dan hutang sebagai pilihan kedua serta penerbitan saham sebagai pilihan ketiga, akan selalu memperbesar profitabilitas untuk meningkatkan laba. Profitability ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Agus Sartono, 2008). Rasio ini sangat diperhatikan oleh calon investor maupun pemegang saham karena berkaitan dengan harga saham serta dividen yang akan diterima.
Profitabilitas sebagai tolak ukur dalam menentukan alternative pembiayaan, namun cara untuk menilai profitabilitas suatu perusahaan adalah bermacam-macam dan sangat tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang akan dibandingkan dari laba yang berasal dari opersai perusahaan atau laba netto sesudah pajak dengan modal sendiri. Dengan adanya berbagai cara dalam penelitian profitabilitas suatu perusahaan tidak mengherankan bila ada beberapa perusahaan yang mempunyai perbedaan dalam menentukan suatu alternatif untuk menghitung profitabilitas. Hal ini bukan keharusan tetapi yang paling penting adalah profitabilitas mana yang akan digunakan, tujuannya adalah semata-mata sebagai alat mengukur efisiensi penggunaan modal di dalam perusahaan yang bersangkutan.
Rasio profitabilitas dapat diukur dari dua pendekatan yakni pendekatan penjualan dan pendekatan investasi. Ukuran yang banyak digunakan adalah return on asset (ROA) dan return on equity (ROE), rasio profitabilitas yang diukur dari ROA dan ROE mencerminkan daya tarik bisnis (bussines attractive). Return on asset (ROA) merupakan pengukuran kemampuan perusahaaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam perusahaan. ROA digunakan untuk melihat tingkat efisiensi operasi perusahaan secara keseluruhan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik suatu perusahaan.
Salah satu ukuran rasio profitabilitas yang sering juga digunakan adalah return on equity (ROE) yang merupakan tolak ukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan total modal sendiri yang digunakan. Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi investasi yang Nampak pada efektivitas pengelolaan modal sendiri. Cara menilai profitabilitas perusahaan adalah bermacam-macam tergantung dari total aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan satu dengan yang lainnya. Agus Sartono (2008), berpendapat bahwa alat yang digunakan menghitung profitabilitas :
a.       Profit Margin = EBIT /Penjualan
b.      Net Profit Margin = EAT/Penjualan
c.       Return On Equity = EAT/Modal Sendiri
d.      Return On Invesment = EAT/Total aktiva
2.2.2.      Leverage
Leverage adalah penggunaan asset dan sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham. Leverage juga dapat meningkatkan variabilitas keuntungan karena jika perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih rendah biaya tetapya maka pengguanaan leverage akan menurunkan keuntungan pemegang saham.
Konsep leverage sangat penting terutama untuk menunjukkan kepada analisis keuangan dalam melihat trade off antara risiko dan keuntungan. Agus Sartono (2008) memaparkan konsep sebagai berikut:
a.      Operating leverage
Perusahaan yang memiliki biaya operasi tetap atau biaya modal tetap , maka dikatakan perusahaan menggunakan operating leverage. Menggunakan leverage operasi perusahaan mengharapkan bahwa penjualan akan meningkatkan perubahan laba sebelum bunga dan pajak
yang lebih besar. Multiplier effect hasil pengguanaan biaya tetap operasi terhadap laba sebelum bunga dan pajak disebut degree of operating leverage (DOL). Besar kecilya DOL akan berdampak pada tinggi rendahnya risiko bisnis perusahaan. Semakin besar DOL, maka semakin besar pula risiko bisnis yang ditanggung perusahaan.
b.      Financial Leverage
Financial Leverage adalah pengguanaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Multiplier effect yang dihasilkan karena penggunaan dana dengan biaya tetap dsebut degree of financial leverage (DFL). Pengguanaa financial leverage yang tinggi mengakibatkan risiko keuangannya juga meningkat.
c.       Combined leverage
Leverage kombinasi terjadi apabila perusahaan memiliki baik operating leverage maupun financial leverage dalam usahanya untuk meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham biasa. Degree combined leverage (DCL) merupakan multiplier effect atas perubahan laba per lembar saham karena perubahan penjuaalan. DCL mengukur keseluruhan risiko perusahaan , DCL merupakan fungsi dari DOL dan DFL.
Tingkat profitabilitas dipengaruhi oleh tingkat operating leverage, oleh karenanya variabilitas profitabilitas aktiva dipengaruhi oleh variabilitas dari pengunaan biaya tetap. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa, variabilitas profitabilitas aktiva bisa disebut dengan risiko usaha yang besar kecilnya dipengaruhi oleh biaya tetap yang ditanggung oleh perusahaan.
2.2.3.      Pengaruh Intensitas Modal terhadap profitabilitas perusahaan
Keunikan dari rasio profitabilitas yang diukur dengan ROE adalah bahwa rasio ini mencerminkan daya tarik bisnis (business attractiveness). Fluktuasi bisnis perusahaan berdampak besar terhadap keuntungan pemilik ekuitas bila sebagian modal perusahaan diungkit (are leveraged) oleh hutang. Brealey et al. (1999) menyatakan bahwa leverage keuangan meningkatkan risiko pemilik modal.
Intensitas modal merupakan salah satu bentuk keputusan keuangan. Keputusan tersebut ditetapkan oleh manajemen perusahaan dimaksudkan untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Penggunaan Intensitas modal didefinisikan sebagai rasio antar fixed asset seperti peralatan, mesin dan berbagai property terhadap asset total. Rasio ini menggambarkan seberapa besar asset perusahaan diinvestasikan dalam bentuk fixed asset untuk peningkatan profitabilitas perusahaan.
Pengukuran rasio Perputaran total aktiva bila dibalik (reciprocal) akan mencerminkan rasio intensitas modal atau capital intensiveness (Brigham dan Gapensky 1996). Comannor dan Wilson (1967) menemukan bukti bahwa pada pada tingkat konsentrasi industri yang tinggi rasio ini berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. (MacMillan et al. 1982) menemukan hasil yang kontradiktif bahwa rasio intensitas modal perusahaa terbukti berpengaruh signifikan tetapi negatif terhadap semua sel matrkis portfolio BCG.




BAB III
METODE PENELITIAN



3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian explanatoris. Penelitian explanatoris ini berusaha menghubungkan dua variabel atau lebih. Dalam hal ini efisiensi modal kerja yang berfungsi sebagai variabel independen atau variabel bebas (dengan notasi statistik X) dan profitabilitas yang berfungsi sebagai variabrl dependen atau variabel terikat (dengan notasi statistik Y).
3.2. Sumber Data
Sumber data dalam peneitian ini adalah:
a)      Data primer, yaitu data yang diperoleh dari PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Bandung berupa laporan keuangan.
b)      Data sekunder, yaitu data-data yang diproleh dari study kepustakaan dengan mempelajari buku-buku yang ada hubungannya dengan masalag yang dirteliti.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
3.3.1.      Penelitian Lapangan
Mengadakan penelitian langsung kepada PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Bandung untuk memperoleh data primer.

3.3.2.      Library Research
Teknik pengimpulan data dengan cara membaca catatan kuliah, buku-buku, majalah dan sumber lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
3.3.3.       Angket
Teknik pengumpulan dengan menggunakan berbagai pertanyaan untuk kemudian dijawab oleh sampel populasi yang telah ditentukan. Dalam angket ada jenis angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertutup adalah hanya mencantumkan pertanyaan, sedangkan angket terbuka adalah mencantumkan pertanyaan dan juga jawaban.
3.3.4.      Dokumentasi
3.4.  Uji Hipotesis dan Analisis Data
a.       Struktur variabel yang akan di uji
  r.exy
r

Y
 


X
 
xy
Ket:
X = efisiensi modal kerja
Y = profitabilitas
r.X.Y = besarnya pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas
r.eXY = besarnya pengaruh selain modal kerja terhadap proditabilitas
b.      Hipotesis yang akan di uji
Hk = xy ¹ 0
Artinya terdapat pengaruh signifikan dari X (efisiensi modal kerja) terhadap Y (profitabilitas)
c.       Data dianalisis dengan menggunakan SPSS for windows versi 1.6






DAFTAR PUSTAKA


Alwi Syarifuddin, Alat-alat Analisis Dalam Pembelanjaan Perusahaan, Penerbit :BPFE, Yogyakarta, 1994.
Brigham, F, Eugene, dan Hoston, F, Joel. 2001. Manajemen Keuangan. Jakarta:
Erlangga.
Eugene F. Brigham Dan Joel F. Houston, 2006, Manajemen Keuangan, Jilid 3,
Penerbit : Erlangga, Jakarta.
Ganesan, Vedaniyagam,2007. “An Analysis Of Working Capital Management
Efficiency In Telecommunication Equipment Industry”. River Academic
Journal , Volume 3, Number 2.
Hanafi, M, Mamduh, dan Halim, Abdul.2005. Analisis Laporan Keuangan
Jangka Panjang). Yogyakarta: BPFE.
Riyanto, Bambang.1995. Dasar-dasar Pembelajaran Perusahaan.
Yogyakarta:BPFE.
Rangkuti, Freddy. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Sawir, Agnes. 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan
Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, Agus. 1998. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
BPFE.
S. Munawir, 2001, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Keempat, Liberty,
Yogyakarta.
T. Hani Handoko, 2002, Manajemen, Edisi Kedua, BPFE Yogyakarta.



teman-teman muslimah yang butuh jilbab, silahkan klik DISINI






5 comments:

Yusep Nugraha said...

terima kasih atas infonya!!!

Aang Rouf said...

sama-sama kawand

Didi Carsidiawan said...

mas mohon ijin ya saya kutip artikelnya, sangat bagus. mohon diijinkan ya. terima kasih

Aang Rouf said...
This comment has been removed by the author.
Aang Rouf said...

silahkan semoga bermanfaat

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys