18 February 2016

Pengertian Rekruitmen Politik

Pengertian rekruitmen politik menurut para ahli :
  1. Miriam Budiardjo (2004 : 164), Rekruitmen politik adalah seleksi kepemimpinan (selection of leadership), mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik. Dalam hal lembaga kegiatan politik, rekruitmen politik merupakan fungsi dari partai, yakni rangkaian perluasan lingkup partisipasi politik. Diantara caranya adalah melalui kontak pribadi, persuasi dan lain-lain.
  2. Ramlan Surbakti ( 1992 ; 118), dalam bukunya yang berjudul Memahami Ilmu Politik, Beliau mengemukakan bahwa rekruitmen politik adalah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintah pada khususnya.
  3. Rush dan Althof (2003), rekruitmen politik sebagai proses yang individu individunya menjamin atau mendaftarkan diri untuk menduduki suatu jabatan. Lebih lanjut, Rush dan Althof mengatakan bahwa rekruitmen atau perekrutan ini merupakan proses dua arah, dan sifatnya bisa formal maupun tidak formal. Dikatakan proses dua arah dikarenakan individu individunya mungkin mampu mendapatkan kesempatan, atau mungkin didekati oleh orang lain kemudian menjabat posisi posisi tertentu. Dengan cara yang sama, perekrutan itu disebut formal kalau para individu direkrut dengan terbuka melalui cara prosedural atau institusional berupa seleksi atau pemilihan. Kemudian disebut informal manakala para individunya direkrut secara prive (sendirian) atau dibawah tangan tanpa melalui atau sedikit sekali melalui cara institusional.
Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli ini, proses rekruitmen politik dapat bersifat :
  1. Top-Down. Artinya rekruitmen politik yang berasal dari atas atau orang orang yang sedang menjabat.
  2. Bottom-Up. Artinya proses rekruitmen politik yang berasal dari masyarakat bawah seperti proses mendaftarkan diri dari individu individu untuk menduduki suatu jabatan. Contoh sifat ini adalah individu individu melamar kepada partai politik untuk maju sebagai kandidat anggota legislatif ataupun calon kepala daerah.
  3. Campuran, Artinya proses seleksi tahap pertama dilaksanakan di tingkat atas, kemudian proses selanjutnya diserahkan ke masyarakat bawah. Begitu pula, sebaliknya, Proses seleksi pertama di selenggarakan di tingkat bawah, kemudian diserahkan kepada keputusan tingkat paling atas. Praktik rekruitmen politik ini biasanya terdapat pada proses pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilu eksekutif.

Labels: , , ,

17 December 2014

Proyeksi Neraca

Proyeksi neraca adalah perkiraan/estimasi angka pos-pos neraca perusahaan pada masa masa yang akan datang. Pos-pos  proyeksi neraca sama dengan pospos neraca sedangkan proyeksi meliputi beberapa tahun sesuai dengan jangka waktu kredit. Sama halnya dengan proyeksi perhitungan rugi/laba, maka angka angka proyeksi neraca disesuaikan dengan aktivitas perusahaan masing masing tahun di masa masa yang akan datang.

Sumber :
Firdaus,Rachmat. 1985. Teori dan Analisa Kredit. Bandung : PT. Purna Sarana Lingga Utama


Labels: , , , ,

Proyeksi Perhitungan Rugi/Laba

Proyeksi perhitungan rugi laba adalah suatu estimasi laporan yang sistimatis tentang pendapatan dan biaya biaya yang akan dicapai oleh perusahaan di tahun tahun yang akan datang. Pos pos dari proyeksi ini sama dengan pos pos rugi laba, sedangkan angka angka pendapatan diperkirakan dari estimasi volume penjualan yang akan dating serta biaya juga diperkirakan sesuai dengan aktivitas di masa mendatang.
Tentu saja sebelum dihasilkan angka angka untuk mengisi pos pos proyeksi tersebut, diperlukan terlebih dahulu angka angka beberapa tahun yang lalu (past performance) sehingga dapat diketahui trend/tendesi untuk tahun tahun berikutnya. Proyeksi ini biasanya meliputi beberapa tahun sesuai dengan jangka waktu kredit

Labels: , , ,

Market Economic System

A society changes more advancing and more developing. The goods which are produced are not directed to fulfill the need of society, but they are also offered to the other societies. On the other way round, they also get the goods from other societies for fulfilling their economic need. The exchanges become extensive. The goods and merit which they produce become more various.
A market economic system is often called as liberal economic system or capitalistic economic system. The following are the characteristics of market economic system : The individual’s proprietary right are confessed, The freedom of endeavoring and the freedom of competing are given, Production orientation to market with the aim of achieving maximal beneafits,Economic activities are controlled by the market mechanism; the government does not have a right to adulterate in economics.


Sutarno,Sunarto,Sudarno,Isrorah,Siti Nurjanah. 2009. Theory and Aplication of Economics. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Labels: , , , ,

Main Economy Problems

Each economyorganization will always plan the activities which will be done. In production planning, each economy organization will encounter three the main problems such as.
  1. What and how the commodities which must be produced ? in other words, how many goods and merit which must be produced ? what kind of goods and merit which will be produced ? when are the goods and merit made ?.  Therefore, the problem are in the form of number and kinds of goods and merit which must be produced by the economics. In order to be able to solve problems, private producers or government must do market analyses for determining the goods and merit which are needed by a society. This is done for getting the certainty that those goods and merit are really needed.
  2. How must the commodities be produced ? in other words, who do the production process, what kinds of combinations of production factors, and what kinds of techniques ?. In order to be able to solve those problems, private producers or government must determine the production techniques which are effective and efficient. Besides, there are clear divisions of the persons who will do the production. Production input, whether the way to gain or the way to use must be planned accurately.
  3. For whom the commodities be produced ? who will get benefits from the existence of goods and merits in countrywide ? or in other words, how the national products are distributed to each person ?.  To answer this question, private producers or government must do market analyses for determining the consumers who will use goods and merit. Production planning in an organization must be determined accurately, especially in determining the persons who will use the production results of goods and merit.


Sutarno,Sunarto,Sudarno,Isrorah,Siti Nurjanah. 2009. Theory and Aplication of Economics. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Labels: , , , ,

21 July 2014

Solusi Konsumen

Era sekarang merupakan suatu kondisi dimana keunggulan kompetitif merupakan syarat bagi kesuksesan perusahaan. Konsumen begitu dimanjakan dengan begitu banyak pilihan untuk memutuskan mana yang akan dibeli, sementara pihak perusahaan dihadapkan pada persoalan yang mahapelik pesaing. Pilihan perusahaan untuk tetap eksis pun Cuma satu, memenangkan persaingan, caranya ? dengan meningkatkan kualitas pelayanan.
Hanya saja masalahnya, banyak pemimpin perusahaan tidak pernah memikirkan berapa nilai ekonomis setiap pelanggannya, sehingga mereka juga tidak menyadari berapa banyak pelanggannya yang hilang setiap tahun karena tidak dilayani dan dirawat dengan baik. Pelayanan masih merupakan hal langka, masih menjadi luxury, merupakan komplimen dan optional, bukan suatu paket yang sudah standar.
Pelayanan kepada konsumen (customer service) memang sudah banyak didiskusikan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Seminar dibuka  denga tepuk tangan meriah, diliput puluhan kuli tinta media massa, disorot kamera televise, namu sudahkah aneka macam seminar, workshop, panel diskusi, dan training yang menyoal customer service benar-benar di realisasikan dalam menjalankan perusahaan ? sulit untuk menjawab pertanyaan yang satu ini.
Seperti dikatakan Johanes Lim Ph. D,. penerapan customer service sendiri harus melewati berbagai tahap. Tahap pertama, tindakan kuratif yaitu dengan  mengedapankan customer service. Tahap kedua, tindakan preventif dengan aksi excellen service. Tahap berikutnya, tahap ketiga, tindakan antisipatif dengan menerapkan TCSS.
Untuk kasus yang dihadapi Indonesia, banyak perusahaan masih berkutat pada fase pertama, yaitu menjalankan customer service sebagai tindakan kuratif. Dari banyak perusahaan itupun masih banyak pula perusahaan yang belum mampu melaksanakan tahap pertama ini.
Fase kedua, tindakan preventif, dengan menjalankan program excellen service. Tujuan utama yang sebenarnya adalah untuk lebih memuaskan kebutuhan pelanggan dan sekaligus mencegah timbulnya persoalan (complain) dari pelanggan. Tindakan yang digunakan adalah dengan menciptakan product plus atau value added. Namun sayang, excellen service sering gagal untuk direalisasikan sesuai konsep karena penerapannya bukan sebagai the program melainkan hanya sebagai a program dan bersifat sporadic.
Fase paling mutahkir, fase ketiga, yaitu tindakan antisipatif terhadap perubahan perilaku pasar dengan mengedepankan TCSS. TCSS dimaksudkan sebagai the program, sebagai strategi utama perusahaan agar menjadi competitive adventage bukan sebagai value added. Oleh sebab itu TCSS mempunyai sifat fundamental, radikal, dan revolusioner dengan melibatkan semua level dan semua department. Jika dipandang mendesak, maka dapat pula digunakan reengineering terhadap infrastruktur dan operasional perusahaan.
Gerakan TCSS supaya tidak berhenti dalam dataran konsep semata, Johanes Lim PhD lantas member solusi sukses guna peningkatan kinerja perusahaan. Solusi tersebut, pertama, business linked, quality service merupakan isu mendasar. Quality service tidak boleh dipandang sebagai pilihan ekstra. Program quality service dianggap sebagai sebuah investasi, bukan cost. Karenanya mereka yang mempercayai hal diatas haruslah menunjukkan kepada mereka yang meragukannya bahwa hal di atas dapat memberikan suatu hubungan timbale balik yang menguntungkan.
Solusi kedua, led from the top. Consensus yang ditetapkan perusahaan harus berasal dari top timnya. Kepemimpinan yang piawai, kritis, dan dapat mempengaruhi pemikiran orang lain hanya dapat dilakukan oleh top leader. Pemimpin harus melihat pelayanan sebagai bagian dari tugas manajemen. Karenanya pemimpin harus memiliki strategi untuk mempengaruhi orang-orang dalam rentang kendalinya agar meningkatkan pelayanannya secara kontinyu.
Solusi ketiga, empowerment. Istilah ini menegaskan bahwa pegawai yang berada di garis depan harus mampu menerima tanggung jawab bahwa merekalah pemegang kunci didalam menciptakan pengalaman para pelanggan. Pihak manajemen sendiri harus melatih pegawai garis depan untuk dapat memberikan hal terbaik bagi konsumen, serta memberikan pengakuan dan penghargaan atas usaha-usaha mereka.
Solusi keempat, supporting by training, selection and introduction.
Kesuksesan di dalam memberikan pelayanan terbaik terhadap konsumen jelas tidak melalui jalan pintas. Hanya diperlukan 2% untuk inspirasi, sisanya 98% merupakan kerja keras, dedikasi dan determinasi. Sangat dibutuhkan adanya training untuk mengembangkan sikap dan kemampuan yang diharapkan. Perekrutan orang-orang berbakat lebih ideal dimasukan ke dalam budaya pelayanan perusahaan.
Sumber :
AM. Lilik Agung. 1997. Strategi Bisnis : Marketing dan Manajemen. Yogyakarta : Andi


Labels: , , , ,

Sex Marketing

Filsuf kondang Michael Foucault pernah mengatakan bahwa seks amat berpengaruh terhadap individu dan rekayasa kekuasaan. Dalam uraian panjangnya yang terangkum dalam buku the history of sexuality. Foulcault bertutur bahwa sejak akhir abad XVIII sampai saat ini telah terjadi suatu bentuk individualitas yang justru merupakan kebalikan dari tipe individualitas pada zaman rezim feudal. Manusia hidup dalam sebuah rezim baru, yakni rezim disipliner. Teknik disiplin yang pada mulanya berpusat pada tubuh, lambat laun menyebar ke segala bidang. Individu semakin terspesialisasi. Segala kegiatan individu di control melalui penetapan jadual pelaksanaan dengan tujuan menghasilkan ritme dan keteraturan.
Sejak akhir abad XVIII sampai sekarang ini, kata Foulcoult, terjadi letusan diskursif tentang seks. Seks dibicarakan dimana-mana. Individu dimotivasi untuk mengenal dirinya secara keseluruhan melalui penuturannya tentang seks. Teknik ampuh untuk mendorong individu berbicara tentang seks oleh Foulcault disebut dengan pengakuan. Apa saja oleh individu bersedia dilakukan. Orang mengakui kejahatannya, pikiran-pikirannya, fantasinya, perbuatannya. Teknik pengakuan ini sebenarnya alat control dan pemantauan yang oleh individu sendiri tidak disadari. Individu tidak menyadari bahwa telah terjadi semacam rekayasa kekuasaan terhadap dirinya sendiri (Joao Piedade,1991).
Pikiran cerdas Foulcault ternyata tanpa disadari telah ditindak lanjuti oleh seorang pria di negeri ini. Anehnya, pria tadi bukan ahli filsafat maupun ahli sosial. Ia adalah pakar marketing sekaligus praktisi bisnis kampiun. Kafi Kurnia, demikian nama pria ini. Laki-laki berambut jabrik ini belum lama ini melontarkan gagasan cerdas tentang strategi marketing. Sex Marketing, demikian nama gagasan Kafi Kurnia.
Seperti pandangan Foucault, pendapat Kafi Kurnia tentang sex marketing juga mempengaruhi individu dalam mengelola perusahaan serta rekayasa produk guna menghadapi pesaingnya. Hanya pengertian seks menurut Kafi berbeda jauh dengan pengertian menurut Foucault, seks kata Kafi bukan berarti jenis kelamin atau hubungan badan. Sex adalah sensasional,entrepreneurship dan faktor X.
Dewasa ini terjadi pembalikan yang lumayan serius terhadap perilaku konsumen. Konsumen tidak lagi memperhatikan produk apa yang ditawarkan, namun lebih tertarik terhadap bagaimana cara dan teknik produk itu ditawarkan. Konsumen tidak bakal mempersoalkan jenis produk yang diperjualbelikan, namun terhadap bombardier iklan dan promosi yang mempengaruhinya. “Buang jauh-jauh teori differensiasi produk, Ganti dengan differensiasi konsumen!” kata Kafi dengan lantang dalam sebuah seminar di Jakarta baru-baru ini. “Dan ingat, Konsumen kita sekarang semakin tidak tahu, Sementara orang-orang marketing semakin pura-pura tak tahu!”.
Lumayan controversial juga pandangan Kafi ini. Namun itulah kecenderungan yang sehari-hari semakin mendekati kebenarannya. Apa yang dilakukan riset dan apa yang dilakukan oleh konsumen, semuanya bertolak belakang. Risel selalu menekankan differensiasi produk. Produk bisa sesering mungkin dapat diubah, entah itu pada kemasan, warna, komposisi, ataupun bentuk. Tetapi akan kecewalah para penganut paham differensiasi produk, kecenderungan besar yang diperhatikan konsumen adalah iklan di media massa.
Produk yang sangat membosankan dapat dimanipulasi menjadi sensasional lewat iklan. Yang sensasional sekarang adalah asap (iklan di media massa) dan buka api (produk). Contohnya, sampo Sunsilk. Sampai detik ini sampo Sunsilk tetap menjadi raja sampo, biarpun kemasan, bentuk atau warnanya sejak dulu sama. Sampo Sunsilk meninggalkan jauh pendukungnya macam Organic, Clear, Dimension yang satu pabrik dengannya, apalagi sampo dari perusahaan lain, mengapa ? karena gencarnya iklan sampo Sunsilk. Di televise, radio, majalah, setiap hari kita pasti menemui iklannya.
Itulah yang oleh Kafi disebut sensasional. Sensasional dalam menawarkan produk ke konsumen. Orang marketing harus lebih dekat dengan konsumen. “Lupakan saja produk Anda, perhatikanlah siapa konsumen produk Anda,” saran Kafi Kurnia sungguh-sungguh.
Namun yang tetap tidak boleh dilupakan adalah produk yang membosankan akan berubah menjadi produk sensasional bila ditangani oleh manusia berdarah dingin. Manusia ini disebut entrepreneurship. Manusia yang mempunyai jiwa dan semangat entrepreneurship. Untuk menjadi seorang entrepreneurship kampiun tidak harus belajar melalui buku-buku tebal atau sekolah di universitas terkemuka, tetapi cukup dengan ketekunan dan kejelian di dalam menangkap peluang.
Prayogo Pangestu, bos Barito Pasific, SMP saja tidak lulus. Markus Alim, pemilik Maspion Group, juga hanya jebolan SMP. Eka Tjipta Widjaja, Soedono Salim, bahkan tak jelas pendidikannya. Tetapi mereka dapat meraih sukses. Mengapa? Karena tekun dan jeli.
Ada satu lagi yang harus diperhatikan dalam meraih sukses marketing. Kafi Kurnia menyebut faktor X. Faktor X ini sulit untuk didefinisikan. Tapi Kafi memberi  gambaran yang disebut 3K, yaitu keberanian, keberuntungan, dan kebetulan. Dengan penekanan pada faktor keberanian, orang-orang marketing yang ingin sukses harus berani betindak, keberanian yang disertai logika cenderung akan diikuti oleh keberuntungan dan kebetulan.
Kini pokok persoalan yang mengedepan adalah bagaimana mengkomunikasikan sex ? untuk mengkomunikasikan sex harus mempunyai 2 ideologi utama. Pertama, sex adalah tukang jual nomor wahid. Kedua, sex perlu ekstra humor, yang oleh karenanya ia harus divisualisasikan melalui iklan.
Inilah gagasan cerdas yang disebut sex marketing. Anda berani mencoba ?

Sumber :

AM. Lilik Agung. 1997. Strategi Bisnis : Marketing dan Manajemen. Yogyakarta : Andi

Labels: , , ,

19 December 2012

Materi Kewirausahaan

Di dalam KBBI dikatakan yang namanya kewirausahaan adalah :
  • Orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru
  • Menentukan cara produksi baru
  • Menyusun operasi untuk mengadakan produk baru
  • Mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya
  • Richard Cantillon (1775) menyebutkan bahwa kewirausahaan adalah bekerja sendiri (self-employment). 
  • Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya 
  • Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35), kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya
  • Robin (1996), Kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan melalui inovasi tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan
  • Instruksi Presiden No.4/1995, kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya cara kerja tekhnologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan keuntungan yang lebih besar 
6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut ( Suryana,2003 : 13), yaitu :
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1994).
  • Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
  • Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer. 1996).
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
  • Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
  • Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
sumber :




Labels:

30 November 2012

Penurunan Kemiskinan di jawa barat

Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentrak dibelahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh negara-negara berkembang, tetapi dialami juga oleh negara maju seperti inggris dan AS.

Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian : Kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum : sandang, pangan, kesehatan, papan, pendidikan.

Sedangkan kemiskinan relatif adalah pengukuran terhadap seseorang atau sekelompok orang yang sebenarnya telah hidup diatas garis kemiskinan, namun masih berada dibawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan kemiskinan kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Pada periode tahun 2000-1010, jumlah penduduk miskin jawa barat menunjukan tren yang menurun. Jumlah penduduk miskin di jawa barat pada bulan Maret 2010 sebanyak 4.773.720 orang (11,27%). Mengalami penurunan sebesar 209.850 dibandingkan kondisi pada bulan Maret 2009 yang berjumlah 4.983.570 orang (11,96).

Dalam kurun waktu setahun terakhir persentase penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan turun sebesar 0,40% sedangkan di daerah perkotaan turun 0,90%. Secara absolut selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di perdesaan berkurang 29.010 orang sementara perkotaan turun sebanyak 180.840 orang.

Persentase penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan pada bulan Maret 2010 terhadap penduduk miskin jawa barat adalah sebesar 50,76%. Ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Maret 2009 (49,21%).

Dalam proses penghitungan, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Batasan penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan.

Selama Kurun waktu Maret 2009-Maret 2010 garis kemiskinan naik sebesar 4,77%, yaitu dari Rp. 191.985,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp. 201.138,- pada Maret 2010.

Besarnya garis kemiskinan makanan (GKM) pada Maret 2010 adalah sebesar Rp. 144.942,- dan untuk garis kemiskinan non makanan (GKNM) sebesar Rp. 56.196,- Apabila diperhatikan tampak bahwa peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan sangat dominan dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Gambaran ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah lebih dominan untuk pengeluaran kebutuhan makanan dibandingkan non makanan. 


Sumber : hal 19 dari Buku data terpilah statistik gender dan dan anak di provinsi jawa barat tahun 2011 

Labels: